Sajak-sajak Anju Zasdar (Riau Pos, 20 Oktober 2013)

rindu tanak jadi abu

dari suara hujan
dapat kau terjemahkan

lintuh kesunyian

sepasang mata menangkap
bahasa tubuh yang gagap

sebagian ingatan membisu
setengah anganmelumpuh

kau tak pernah tahu,
bukan?

rindutanak jadi abu

kau tak kunjung
tahu

ikhwal bulan desember

“siapa yang mencipta jarak?”
“bagaimana menaklukkannya?”

seorang tua berbahasa
jarak itu tak pernah ada

meski dibayangkan tak pernah jauh
di dalam hati tumbuh cemas dan rapuh

di sana tersimpan kilometer
ikhwal bulan desember

kita berdua paling tahu
caranya sampai
ke bulan itu

akhir tahun

tak begitu tahu
yang bersaksi dengan bisu
detak jantung ataukah detik waktu

di luar
pohon randu meranggas
malam pun jadi batas

halimun turun
menutup lembar
akhir tahun

sebuah bilik

sajak adalah cinderamata
ditulis dengan sederhana
di dinding bilik
tempat bercinta

yang berulang tahun
: dinie n wardani 

hari ini kau berulangtahun
hidup seakan baru kembali
setelah meniup api pertama
tanda tambahpada usia

hari ini sepasang matamu menyala
setiap sudut rumah yang kau pandang
seolah berbisik denganmu
benda berdebu yang kau sentuh
dengan sendirnya berganti baru

tak ada satu pun luput di ingatanmu
baik yang datang maupun yang berlalu
sebab kau sebuah alegori
hidup di pikiranku
sebagai puisi

hari ini kau berulangtahun
aku api pertama
yang kau hembus
tiba-tiba

tentang mata

matanya adalah sebuah pohon rindang
di mana burung-burung membikin sarang
bersemilah kenangan
damailah ketenangan

hibernasi

dari mulutmu
kata-kata keluar
sebagai petapa

kenangan

kau lebih senang hidup dalam puisi
membangun sebuah jalan di sana
dan abai pada yang asing

lalu kau menghitung jarak
berapa kilometer lagi
harus ditempuh

hanya kenangan
yang lebih tahu

Anju Zasdar
lahir di Pekanbaru pada tanggal 13 Mei. Gemar dengan dunia sastra, dengan terus belajar menulis, membaca buku-buku sastra, dan berdiskusi di komunitas-komunitas. Selain sastra nonton film adalah kegemarannya yang lain. Kini sedang kuliah di jurusan Teknik Informatika, Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, dan aktif di Komunitas Paragraf.

 

 

 

http://www.riaupos.co/1550-spesial-sajak-sajak-anju-zasdar.html#.UmOE2Hufq70

Sajak-sajak Mamad Hidayat [Riau Pos, 6 Oktober 2013]

Ajarkan Aku

ajarkan aku merangkai sunyi
pada mata yang tak lagi basah
pada senja yang jatuh di matamu
dan pada luka yang kita tertawakan

ajarkan aku melangkah, menjejaki
setiap keriput bibirmu yang memucat
mengikuti setiap alur matamu yang
semakin sayup

dan aku semakin gigil di sini,
di diam yang tak pernah kita bicarakan
di kemtian yang tak pernah kita ziarahi

090613

Aku Menunggu

aku ingin kembali, membawa rasa takut yang pernah
kau selipkan di dadaku

aku kehilangan hati, teman untuk menulis
kekasih tempat saling menyayat mimpi
aku kesepian pada malam yang kau bentangkan
aku sendiri dari cerita yang kau tinggalkan
aku menunggu kau mencatatku lagi.

100613

Tidurkan Aku

tidurkan aku dipangkuanmu, selamanya.
biarkan matahari menghitung seberapa lama
aku tidur di pangkuanmu,
walau sebenarnya
aku takkan pernah terbangan lagi.

070513

Bulan dalam Kepala

di dalam kepalaku
bulan menerangi malam
tanpa bintang
tanpa siapasiapa

240513

Bisakah

bisakah aku menjadikanmu air,
mebalas atas semua dahagaku
yang telah kau lepaskan. atau
kau matahari, bisakah aku merasakan bagaimana
rasanya menyinari bumi. atau bolehkah
aku menjadi kau bulan,
menerangi malam, menemani sunyi.

300513

Menunggu Hujan

apa kabar malam?
masihkah kau sendiri?
di antara kerumunan orang-orang
yang menunggu hujan.
ya, kesendirianmu adalah penantian,
menunggu orang-orang memetik bintangnya sendiri-
sendiri. sedangkan di sini
kerumunan tak lagi memikirkan bintang-bintang.
tersebab bintang telah lama menjadi hal yang tak penting,
semenjak hujan tak pernah turun membasahi kami dan bumi.

110613

Memijak Hitam

aku benar-benar jatuh. sendiri.
mengalir di lorong-lorong sungai.
aku benar-benar jatuh. meninggalkanmu.
mengingkari bait-bait tersusun.
aku tak juga menemukan laut,
terperangkap dalam danau kecil dengan
tulisan-tulisan yang terpenjara
cinta menjelma sudut-sudut dalam lingkaran
tanpa siapa-siapa
janji menjadi mimpi dalam tidur kita masing-masing
tak pernah menoleh ke belakang,
apa bedanya kematian dengan terpenjara.
tak pernah bisa menemuimu.
tak pernah bisa melangkahkan kaki.
berjanjilah untuk tak pernah memijak hitam,
yang luas tanpa arah.

170613

Di Depan Laut

aku terlalu lama belajar,
mengartikan arti kata kepergian,
mengartikan arti kata hilang
pada diri sendiri.
mengertilah, selalu ada yang menguasai setiap
pertemuan.
dan selalu ada yang memadamkan perapian
yang kita tinggalkan.
maka biarkan jarak ini terus terbentang.
karena di sini kita pernah bermula.
dan mungkin nanti pertemuan
akan menceritakan lelah dan
tawa kita masing-masing. di depan
laut ini kita curahkan semuanya.

190613

Mamad Hidayat
lahir di Bengkulu, 5 Maret 1990. Kini ia menetap di Simpang Minas, Riau. Menulis puisi adalah kegemarannya sejak lama, tapi jarang mempublikasikannya. Setelah ia masuk ke Sekolah Menulis Paragraf (angkatan II), semangat menulisnya semakin terpacu. Selain pernah dimuat di Riau Pos, puisinya juga termuat dalam buku kumpulan puisi Kopi Hujan Pagi (2012). 

Dari Mitos hingga Simbol Resistensi [Riau pos, 6 Oktober 2013]

dokumentasi riau pos

Dari Diskusi Buku Bujang Tan Domang Sastra Lisan Orang Petalangan

Bujang Tan Domang tidak hanya dianggap tokoh mitologi masyarakat pesukuan Monti Raja, Petalangan. Tokoh dalam sastra lisan yang dikenal luas itu juga dianggap sebagai simbol perlawanan, meski tetap menjadi bahan perdebatan.

Laporan HARY B KORI’UN, Pekanbaru

ADA yang terasa istimewa pada diskusi buku Bujang Tan Domang Sastra Lisan Orang Petalangan di Aula Fakultas Keguruan  Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Riau (UIR) Marpoyan Damai, Jumat (27/9) akhir pekan lalu. Dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas Paragraf bekerja sama dengan Dewan Kesenian Riau (DKR) dan FKIP UIR ini, sang penyusun, H Tenas Effendy, ternyata hadir hingga akhir acara. Padahal sebelumnya, ketika undangan diantar ke rumahnya di Pasir Putih, Pandau, Tenas tak bisa janji untuk hadir karena ada sedikit keluhan pada pinggang dan perutnya.

Dalam diskusi ini, sastrawan muda yang baru menyelesaikan S-2 di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Alvi Puspita, menjadi pembicara tunggal dengan judul makalah “Mitos tentang  Petalangan dalam Bujang Tan Domang (Teori Mitos Roland Barthes)”. Penyair Maymoon Nasution sebagai moderator. Selain Tenas, hadir Pembantu Dekan II FKIP UIR, Dr Sudirnan Shomary MA; Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra FKIP UIR, Roziah SPd MA; penbina Komunitas Paragraf, Marhalim Zaini; peneliti Balai Bahasa Riau, Dessy Wahyuni SS MPd; penulis buku anak-anak Agnes Bemoe, penyair metateater Suharyoto Sastro Suwignyo,  beberapa perwakilan komunitas seperti FLP, Sikari, serta mahasiswa dan peminat sastra lainnya.

Kehadiran Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau ini membuat lebih 60 peserta yang hadir menjadi bersemangat. Sebabnya, Tenas dengan sabar menjawab hampir semua pertanyaan yang berhubungan langsung dengan Bujang Tan Domang, cerita rakyat masyarakat Petalangan (Pelalawan), yang disusunnya hampir 20 tahun menjadi buku tersebut. Meskipun tidak “resmi” menjadi pembicara, tetapi panitia memberikan waktu yang seluas-luasnya kepada Tenas untuk berinteraksi langsung dengan peserta diskusi. Selain itu, banyak peserta yang kebanyakan sastrawan muda dan mahasiswa  yang selama ini tak pernah bertemu atau berkenalan langsung dengan Tenas Effendy, sehingga waktu benar-benar dimanfaatkan oleh peserta untuk diskusi langsung dengannya.

Ketika diminta memberi kata sambutan, Tenas menjelaskan, kearifan lokal membuat masyarakat lebih berbudaya. Menurutnya, Riau sangat kaya dengan sastra lisan, seperti Nyanyi Panjang, Kayat dll yang dimiliki masyarakat Petalangan, Talang Mamak, Bonai, Duanu, atau  Sakai dan suku-suku lainnya.

“Banyak nilai dan falsafah Continue reading

Sajak-sajak Refila Yusra [Terbit Riau Pos, 22 September 2013]

Semua Mendung Adalah Kau

Semua mendung adalah kau,
di mana jalan kala itu lembab—selembab kabut
di bibir jendela pagi ini
cuaca yang selalu bohong di balik awan
menjadi tanda kalau kenangan mengikat di ruas jari kita
kau berkata lewat nanar mata
yang sinarnya remang-remang kunang
saat itu kabut menutupi pandangan
kita mencari bola mata
yang dulu pernah berkenalan.

Aku melihat kunang-kunang di ketapang,
di bawah daunnya sedang berteduh
menunggu hujan menjadi gerimis yang berbaris pelan.
mataku masih tetap liar
menatapi awan, gerimis dan kunang-kunang
apakah kau masih tetap di sana?

Alasan apa yang merenggangkan mata kita
untuk saling bersitatap, membaca dan berbicara
usia hanya perkiraan awan
redup-terang adalah langkah untuk kembali
pada mendung yang sama yang sinarnya
remang-remang kunang.

Kamar Tengah, 20 agus 2013

Teh Panas ini, Bu..

teh panas ini, Bu…
aku hirup napasnya dengan lembut—sendiri
menuai serpihan uap yang sesak
di pinggirnya ada gumpalan peluh—tempat segala keluh

Bu..
teh ini panas
bisakah kau tiupkan untukku—ini malam saja

2012


Na…

Di antara keramaian yang kita punya
dulu, sebelum musim mulai ranum
pohon kasturi kerap mempermainkan dahannya
di bayangmu

Di situasi  mendung berjelaga
anak-anak menggontaikan kaki,
membentuk jejak-jejak tawa di gigir pasir
kita perlahan-lahan menjadi sepasang mata
yang menangkap garis halus kenangan senja

Barangkali kau lupa, Na
ombak yang kau sangka dadaku
pecah terbelah
bagai kuda-kuda fir’aun yang kandas
mencari pulang dosa-dosa cemas

jika suatu nanti kau menemukan setangkai jingga
kuburlah di kedalaman mata yang genggam
seperti putih burung di angkasa
yang lepas membawa sayapnya

yang membadaikan hatiku, Na
adalah tatap awan berkelung hitam
ranting kasturi ini mengibar hujan
bagai poni yang tumbuh di atas matamu—nanar

2012

Perihal dada yang patah (1)

Kala kapal berlayar menyeberangi tubuhmu
Pohon-pohon kehilangan dahan
Semua yang bertepi adalah pelangkah karam
Yang dikutuk di tanah seberang

Jika bambu juga yang menancap di surut laut
Mungkin kau lupa dahannya juga tiada

Berembus bersama angin,
Pohon-pohon bagai kehilangan tulang
Aduhai… gelombang arus ini meruas-ruas
Bagai dedah dada yang patah

Perihal dada yang patah (2)

Kita melihat hujan terlepas dari bungkaman
Kita sama-sama sadar,
langit membius dirinya sendiri
barangkali pelabuhan menjadi makam di hatimu
karena kepergian adalah kepedihan yang diam

detak jam memacu degup jantungku
seperdetiknya lampau, sepermenitnya terlampau
waktu kerap menjadi peneman sejati bagi kenangan
seperti kau, yang kian tenang dan karam
bagimu usia hanyalah perkara batas yang tak tuntas

 

 

http://www.riaupos.co/1492-spesial-sajak-sajak-refila-yusra.html#.Uj74Tnufq70

 

Digital Camera

 

 

Refila Yusra

Lahir di Tanjung Balai Karimun 2 Desember 1989. Mahasiswi tingkat akhir di UIN Suska Riau jurusan Psikologi. Aktif bergiat di Komunitas Paragraf. Beberapa puisinya terhimpun dalam sejumlah antologi puisi bersama, seperti Kopi Hujan Pagi, Bulan Purnama, dan Rahasia Hati.

Puisi May Moon Nasution (Koran Tempo, 8 September 2013)

Puisi-puisi May Moon Nasution

 

Memburu Sombaon

untuk memburu begu yang ini satu,
aku harus mahir memainkan pedang,

kusiapkan jampi dari jimat keramat batu,
sebab ia bukanlah begu sembarang begu

tak lupa kurapalkan segala mantra dari opung,
kusemburkan ke mata pedang, tujuh kali berulang-ulang

puh puh puh allahu, torangma mata ni pedangon!
puh puh puh kalamullahu, tu dia ho begu Sombaon

(ruh yang menguasai lembah-lembah gunung,
ruas-ruas arus sungai, dan curam jurang-jurang)

telah tegap dan siap tubuh begapku, biar kubekap si begu Somba,
ke ceruk rimba yang puruk, ke pokok yang rukuk ke arah senja

nyalalah api, tajamlah pedang ini! kukomat-kamitkan jampi,
ke lubuk mana kau menyuruk, ke sunyi mana kau sembunyi,
sampai juga kau tikam pedangku, tepat di jantungmu yang berapi

inilah mantra-mantra pengusir begu, allahu allahu allahu tujuh kali,
puh puh puh ke mata pedangku, kalamullahu penutup bibirku

inilah jampi mahapamungkas! pengusir begu yang paling buas,
mantra berasal dari opungku, kuakhiri dengan kalamullahu!

puh puh puh allahu, teranglah mata pedang ini!
puh puh puh kalamullahu, sampai ke sunyi tempat kau sembunyi.

Pekanbaru, 2013

Gasing

berpusing-pusing adalah tugas kami, sampai runcing pantat ini membeling, lantas, atas kuasamulah kami menari, menarikan perih hingga hari merembang

jangan kau tanya kenapa kami bersedih, ulah amukmulah yang biadab, tersebab kau, yang tak lihai memainkan kami, hingga kau tega menghempas tubuh kami sebebas batu

lalu, pecahlah, kepinglah! lantas kami tak lagi bisa menari, menarikan sedih sekalipun

dalam malam-malam panjang, kami senantiasa berdoa, semoga moyang kami tak pernah tumbang, sebab hanya membuat kami gamang, menari di beranda yang lengang, penuh

kerling bintang, yang mengajari kami dengan sinar, bagaimana cara bersabar, menahan debar di dada yang gemetar, memupuk kesetiaan tanpa bantahan, agar tubuh kami tak pernah gegar,

saat kami menghiburmu, dengan runcing pantat kami yang beling, berpusing-pusing tanpa henti, bersedih dengan suara hening, yang tak akan pernah kau pahami dalam bahasa gasing.

Pekanbaru, 2013

Mata Pedang

kau tergegau usai mengigau, bermimpi tentang mata pedang,

yang tertuju pada mata apimu, mata yang menyimpan erang petang

ke sunyi mana kau bersembunyi, ke palung mana kau berselindung,
sampai juga mata pedang, lekat di kulit-kilatmu, sekat di punggungmu,
tempat sekolah ruh berlabuh, yang luruh sebelum rembang membayang

lalu pedang, tak lagi mengegaukan mata, mata yang menyimpan kenangan haru

lalu petang, tak lagi bisa kau habiskan, sekadar merehatkan tubuh yang ringkih, menyeguk segelas kopi, di depan televisi, saat senja mulai menjingkatkan kaki

yang menyiarkan berita tentang maut
yang menyiarkan maut di matamu yang akut

tapi mata pedang, tak pernah lupa dengan matamu yang api,
sekalipun kau bersembunyi, di palung-palung paling sunyi.

Pekanbaru, 2013

maimunMay Moon Nasution lahir di Singkuang, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 2 Maret 1988. Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf.

Para Pemburu (Cerpen Zurnila Emhar Ch, Dimuat di Harian Umum “Mimbar Budaya”, Edisi Sabtu, 31 Agustus 2013)

Leherku sakit. Cengkraman laki-laki itu sangat kuat. Aku terus berusaha untuk membuka mataku. Aku tidak ingin lupa akan wajahnya. Agar aku mudah mengenalinya suatu saat nanti jika kami bertemu lagi. Seandainya aku masih hidup.
Air mataku menderas ketika satu per satu anggota keluargaku ditangkap. Anak-anakku merintih memohon belas kasih namun tak mereka hiraukan.
“Kita akan kaya dengan menjual mereka. Hahaha…” Teman laki-laki yang mencengkeramku tertawa terbahak-bahak. Pun laki-laki yang lain.
Suara itu memerihkan hatiku. Anak-keturunanku, mereka akan menjualnya. Entah pada siapa. Seketika ketakutan menelikungku. Aku bakal sendirian. Tidak akan pernah lagi bersenda gurau dalam suasana yang akrab dan hangat.
Aku teringat cerita yang beredar di kampung sebelah. Tentang sosok yang pernah bertemu denganku beberapa waktu yang lalu. Sorot matanya penuh keputusasaan. Sepertinya dia sudah letih menjalani hari-harinya. Mungkin juga sudah lelah menangis.
Dia bukan penduduk di kampung itu. Hanya pengelana yang tidak tahu harus ke mana. Menurut ceritanya, sebelum terlunta-lunta, dia pernah hidup mewah. Dia menjadi peliharaan seorang kolektor. Walau hidupnya tidak bebas namun dia cukup beruntung. Laki-laki itu merawatnya dengan baik. Semua keperluannya selalu dipenuhi. Dia ditempatkan di rumah yang bersih dan terawat. Sesekali dia dibawa jalan-jalan. Dipertemukan dengan sesama jenisnya.
Hingga suatu saat, sang kolektor menghadiahkannya kepada keponakannya. Hidupnya berubah drastis. Dia dipenjarakan di kandang yang sama sekali tak terurus. Makannya tidak lagi teratur. Sang pemilik yang masih muda terlalu sibuk dengan dunianya sehingga sering melupakannya. Palingan dia mendapat perhatian kalau kawan-kawan si pemuda datang bertandang.
Lebih buruknya lagi, pemilik barunya yang hobi mabuk-mabukan juga tidak segan-segan menyemburnya dengan bir. Atau memukulnya sebagai pelampiasan kekesalan. Di sana, dia sangat merindukan kebebasan.
Berkali-kali dia mencoba kabur. Pernah dia merayap di sisi pagar tembok. Berlindung di balik rimbun bunga-bunga. Melepas dahaga dengan air yang tergenang di atas dedaunan. Lapar tidak lagi terasa. Penat dan letih diabaikan. Aroma kemerdekaan mulai dihirupnya. Bayangan rumah, berkumpul dengan keluarga memenuhi rongga kepalanya. Air mata bahagia mengucur. Namun rasa itu segera menguap. Begitu dia sampai di pagar besi, pemuda itu menemukannya. Dia dipukul. Dibanting. Dan kembali dikandangkan.
Setelah peristiwa itu dia mulai berpindah tangan. Bukan untuk dipelihara. Tapi sebagai taruhan judi. Dari satu meja dia terlempar ke meja yang lain. Berganti-ganti tuan. Hingga tidak tahu siapa yang lebih baik di antara mereka. Dia semakin sering bepergian. Dari balik kaca mobil dia hanya bisa melihat pepohonan dan bangunan yang tidak pernah sama.
Ketika peluang untuk kabur itu kembali datang, dia kembali memanfaatkan. Tapi jalan pulang tidak pernah ditemukannya. Berulang kali dia tersesat. Perjalanannya seperti tidak punya ujung. Tidak pernah dia menemukan pepohonan dan bangunan yang sama dengan yang dilaluinya dulu. Dia mulai lelah. Diputuskannya untuk memulai hidup baru. Di tempat yang baru. Dengan masyarakat yang baru.
Aku merasakan ngilu yang sangat di hatiku. Aku tidak ingin kejadian itu juga menimpaku. Apalagi anak-anakku. Tidak! Oh, Tuhan.
Anak sulungku meronta sewaktu dimasukkan ke dalam karung. Dia coba melilit. Menggigit. Benar-benar jantan. Namun usahanya tidak berhasil. Pawang itu berhasil melumpuhkannya.
“Bagaimana dengan yang ini, Pak?” laki-laki yang mencengkramku bersuara.
“Bawa saja. Biarpun sudah tua, dia masih bisa beranak.”
Aku diseret. Dipurukkan ke dalam karung. Laki-laki itu bersiul riang. Begitu tangannya melepaskan leherku, aku langsung melompat. Menggigit. Dia mengerang.
“Aaa… Ularnya lepas!”
“Tangkap!”
“Awas! Jangan sampai dia lari ke lereng.”
Hanya satu orang yang mengejarku. Yang dua orang lagi sibuk mengarungkan anak-anakku. Teriakan-teriakan mereka terus berhamburan di belakangku.
Sekuat tenaga aku lari. Terjun ke lereng terjal di sisi pemukiman kami. Di sana aku pun terguling-guling. Terhempas. Tersuruk di rerumputan.
Itulah kali terakhir aku melihat keluargaku.

* * *
Beberapa hari sejak kejadian itu, kondisiku mulai pulih. Kuputuskan untuk pulang. Aku mencoba mendaki lereng itu lagi. Berharap bisa bertemu keluargaku. Setidaknya ada yang tertinggal di antara mereka. Bayangan anak-anak yang memangilku ibu terus menyemangatiku.
Kuretas lereng yang licin, terjal, dan tanpa pepohonan. Ketika sampai di rumah hatiku ngilu. Rumahku berantakan. Tidak ada gelak tawa, adu mulut ataupun hanya sekadar siul, yang biasa menyemarakkan rumah. Sepi.
Aku tidak berani berkhayal anak-anakku akan kembali. Saat itu, orang-orang tersebut datang dengan mobil. Berarti mereka telah membawa keluargaku ke tempat yang jauh dari sini. Akan dijadikan apakah anak-anakku? Dijual? Barang taruhan juga? Semoga tidak! Semoga mereka masuk penangkaran. Ya. Penangkaran! Aku pernah mendengar tentang tempat itu dari cerita orang-orang yang berdiri di pinggir rawa. Itu lebih baik. Dengan membayangkan itu aku juga bisa mati dengan tenang. Walau sendirian.
Berhari-hari aku berkelana. Di tiap pemukiman yang kutemui kutanyakan tentang keluargaku. Berharap di anatara mereka ada yang tersisa. Namun aku tidak menemukan apapun.

* * *

Sore ini udara berkisar dengan lembut. Berada di bawah pohon sambil menikmati birunya langit sungguh menenteramkan. Hilanglah segala penat yang menghimpit tubuh sedari pagi. Sembari dibuai angin aku mencoba untuk tidur. Seperti biasa; aku berharap bisa melihat anak-anakku dalam mimpi.
Baru sebentar kunikmati istirahatku, perasaanku mulai tidak enak. Seperti tengah terjadi sesuatu. Aku bisa merasakan kegaduhan dan kepanikan dari suara-suara yang menjerit, teriakan marah, juga tawa penuh angkara. Seketika ingatanku dipenuhi kejadian yang pernah menimpaku dulu. Ada dorongan yang begitu kuat untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Aku beringsut. Mencari-cari asal kegaduhan. Rawa ini cukup luas untuk dijelajahi. Di sepanjang jalan, aku melihat jejak kaki yang tertanam dalam ke lumpur. Aku juga menemukan jejak tubuh yang diseret. Air yang biasanya jernir juga kotor. Perasaanku jadi campur aduk. Takut, keingintahuan, kebencian, melebur jadi satu.
Dilindungi keladi yang tumbuh rimbun, aku menyaksikan semuanya dengan leluasa. Mereka yang datang waktu itu, kembali mengacaukan rawa ini. Aku ingat persis dengan wajah salah satunya.
“Ternyata rawa ini memang ladang uang buat kita! Haha…”
“Tepat sekali kita berburu di sini.”
“Ya, rupanya di sini adalah surga mereka, tempat mereka berkembang biak…”
“Juga surga kita! Haha…”
“Bawa karungnya ke sini! Aku dapat anaknya!”
Darahku mendidih. Kepalaku terasa panas. Dendamku membara. Pelan-pelan aku mendekat.
“Dapat!” serunya.
“Wah… berat juga… Karung-karung…!” seorang yang lebih muda berteriak.
Jarak kami kian dekat. Laki-laki yang pernah mencengkramku sedang sibuk melepaskan diri dari lilitan mangsanya.
“Awas, Pak! Ada ular di dekatmu…”
Dia menoleh.
“Aargh…”
Sebelum meluncur pergi aku tegak di depannya. Berharap dia masih mengingatku. Sepasang matanya mendelik. Aku menyeringai. (Zech)

Perawang, 27 Desember 2012

***

ZURNILA EMHAR CH, lahir di Bukittinggi, 18 Desember 1986. Menulis cerpen, sajak, esai dan resensi. Tulisannya pernah dimuat di Padang Ekspres, Singgalang, Haluan, Riau Pos, Haluan Riau, Metro Riau, Majalah Sastra Sagang, Majalah Story, Ilmuiman.net dll.